Jumat, 27 Desember 2013

Lebenslangenschicksalsschatz

Beberapa waktu lalu, nonton ulang How I Met Your Mother season 8, episode 1. Dan menemukan scene yang bagus banget. HIMYM itu emang sitkom bagus deh. Banyak pelajaran yang bisa diambil, disamping lucu-lucu dan menghiburnya. 

Jadi disini ada percakapan antara Ted dan Klaus di stasiun kereta. Disini Ted nanya ke Klaus kenapa Klaus ninggalin Victoria di hari pernikahan mereka, sebelum awalnya Ted mergokin si Klaus turun dari jendela kamarnya turun manjat pipa air padahal Ted sendiri baru aja naro surat Victoria yang juga mau ninggalin Klaus di hari pernikahan mereka demi Ted. And the dialog continue to :

There is a word in German : Lebenslangenschicksalsschatz. And the closest translation would be : 'Lifelong Treasury of Destiny'. 
And Victoria is wunderbar (wonderful), but she's not my Lebenslangenschicksalsschatz. She is my Beinaheleidenschaftsgegenstand, you know? It means 'The thing that is almost the thing that you want, but it's not quite.'
Lebenslangenschicksalsschatz is not something that develops over time. It is something that happens instantaneously. It courses through you, like the water of a river after a storm, filling you and emptying you all at once. You feel it throughout your body. In your hands, in your heart, in your stomach, in your skin. Of course you feel it in your Schlauchmachendejungen- pardon my French.
Continu... 
Klaus : Have you ever felt this way about someone?
Ted : Yeah, I think so.
Klaus : If you have to think about it, you have not felt it.
Ted : And you're absolutely sure you'll find that someday?
Klaus : Of course. Everyone does eventually. You just never know when or where.

And, the story continued to Ted met the girl with yellow umbrella and then the film is ended.

Terus aku jadi mikir sendiri. Kapan dan dimana aku akan menemukan my Lebenslangen-schicksalsschatz. Dan gimana kalo sebenarnya aku udah pernah ketemu dengan nya, tapi ga nyadar. Tapi kayak kata Klaus, if we still have to think about it, then it's not my Lebenslangenschicksalsschatz. Maybe it's just my Beinaheleidenschaftsgegenstand or my wunderbar one. Haha.

Jumat, 15 November 2013

Toleransi, Pengertian, Peka, Terbuka.

Liburan. Jalan-jalan. Mungkin hampir semua orang suka. Tapi mungkin ada juga sebagian orang yang nggak suka liburan. 

"Baru pulang dari mana? Sendiri? Ada sodara disana?."
"Ngga ada."
"Ih, ngapain. Sendirian lagi."

"Kok cuma 2 hari disininya?"
"Iya, cuma bisa libur 2 hari."
"Ngabisin duit aja. Mending tadi seminggu"

"Kok ke sana lagi? Kan dulu udah pernah."
"Ya gapapa."
"Mendingan ke tempat lain. Orang udah pernah."

Memang sih, kalo mau jalan-jalan pasti harus ngeluarin duit ekstra. Terutama untuk nginap sih biasanya yang gede. Untungnya saya join di sebuah situs yang bisa request untuk tinggal dan nginap sementara di rumah atau kosan orang yang sama-sama join di situs tersebut. Kita bisa share apapun. Setelah gabung di situs ini saya lebih berani pergi kemana-mana sendiri. Soalnya saya nggak akan sendiri, saya ada temennya disana. Dan saya menjadi orang yang lebih toleran, pengertian, peka, dan terbuka.

Kalo selama ini di lingkungan yang ini-ini saja, kita punya teman yang itu-itu saja, dan mau deket ke orang lain susah, soalnya setiap orang udah punya kelompok-kelompok masing-masing yang punya rahasia bersama dan nggak semudah itu untuk nyambung ke kelompok tersebut. Apalagi saya termasuk orang yang tertutup, kurang bisa masuk ke orang baru. Tapi kalo kita jalan-jalan sendirian, nggak ada temen yang kenal, adanya temen yang baru kenal semua, kita jadi membuka diri, karena kita butuh teman. Saya jadi membuka diri ke mereka-mereka teman baru saya, saya ketemu orang-orang baru yang berlatarbelakang beragam. Kalo di kampus saya cuma ketemu teman-teman yang kebanyakan berasal dari Bandung dan sekitarnya dan Jakarta. Jadi kalo nggak orang Sunda ya orang Jakarta, trus sama-sama mahasiswa. Beberapa kenalan ada yang kuliah di dua tempat sekaligus dengan bidang yang sama sekali berbeda, beberapa kenalan ada yang aslinya dari angkatan diatas saya karena beberapa hal, beberapa kenalan ada yang sambil kerja, beberapa kenalan ada yang punya usaha sendiri, sebatas itu keberagamannya. Begitu saya keluar kota, ketemu orang-orang baru, yang memang benar-benar beragam. Ada yang pelukis, ada yang kerja di bidang advertising dan media, yang bener-bener saya nggak ngerti, ada yang pernah kerja di manajemen mall, ada yang arsitek, ada yang tukang ojek, ada yang penulis, ada yang orang kantoran, ada yang di koran, ada yang di supplier wine, ada yang sommelier, ada yang fotografer. Beragam. Dan biasanya saya yang paling muda di kelompok. Jadi saya banyak belajar dari mereka-mereka yang punya pengalaman lebih banyak dengan latar belakang bidang yang beragam. Itu semua membuka mata saya. 

Beberapa teman yang saya temui punya beda-beda. Misalnya beda agama, beda suku, beda negara. Saya sih udah biasa sama yang beda agama dan beda suku, soalnya keluarga saya juga banyak yang beda-beda, jadi saya udah terbiasa toleran, dan nggak sempit sudut pandangnya. Ketemu orang yang beda-beda itu bikin saya tambah toleran juga.

Sekarang saya merasa saya lebih terbuka dan lebih ramah ke orang, suka senyum, dan memasang muka friendly. Dan entah cuma perasaan saya aja, atau emang dunia menjadi lebih bersahabat, orang-orang menjadi lebih ramah juga ke saya. Mungkin sebenarnya dunia nggak berubah, cuma saya yang berubah menjadi lebih terbuka dan ramah. Iya, kita nggak bisa minta semuanya berubah ngikutin kita, kita juga yang harus berubah. Nggak mungkin Semua orang salah, cuma kita sendiri yang benar. Mungkin emang ada yang kurang dari kita, ada yang harus diubah. 

Saya juga beberapa kali nginap di rumah orang baru yang bener-bener baru dan asing. Saya berusaha peka liat kondisi rumahnya, kondisi awal kamar yang akan saya tiduri. Saya peka dan sadar dan tau. Tanpa ada saya disini, orang ini sudah punya aturan sendiri untuk rumahnya. Maka saya pun sadar, saya nggak boleh sesuka hati. Saya selalu beresin tempat tidurnya lagi sebelum keluar kamar, nggak ninggalin sampah di kamar mandi ataupun di kamar, dan selalu bilang kalo make sesuatu meskipun itu cuma tisu dan sepencetan sampo. "Mbak, maaf ya tadi aku pake tisu sama samponya mbak." Aku juga pernah disuruh sarapan, abis makan aku langsung ke dapur dan cuci piring sendiri dan beberapa piring yang memang sebelumnya ada di wastafel. Trus aku juga ngobrol dan mencoba akrab ke keluarganya. Karena tujuan saya bukanlah sekedar numpang tinggal untuk menghemat uang. Saya butuh teman baru, orang baru. 

Waktu nginap di model kosan, aku suka nyapuin kosannya. Nggak berat. Biasa aja. keringetan juga nggak. Trus peka dan pengertian juga kalo saya diajak jalan-jalan, suka sharing bensin, dan tiket masuk wisata, atau kalo memang yang ngajak saya jalan-jalan ngomong nggak perlu sharing bensin dan tiket masuk, seenggaknya saya suka bayarin parkir yang cuma seribu duaribu. Cuma nunjukin kalo saya bukannya minta digratisin, saya nggak berniat dibayarin dan ngerepotin. 

Sampe sekarang saya masih berteman baik dengan beberapa orang-orang baru yang saya temui pas jalan-jalan dan masih kontek-kontekan. Beberapa lainnya berteman biasa saja, karena baru ketemu sebentar, jadi masih belum terlalu akrab. 

Sekarang saya lagi nabung, buat pergi lagi, entah itu ke tempat baru, atau ke tempat yang udah pernah saya kunjungi sebelumnya. Saya nggak sabar ketemu orang baru lagi, di tempat asing yang nggak biasa lagi, dan belajar untuk toleran, pengertian, peka dan lebih terbuka.


Rabu, 23 Oktober 2013

Ah, iya. Bahagia itu sederhana.

"Sometimes you just need to distance yourself from people. If they care, they'll notice. If they don't, you know where you stand." 
 Here I am.

4 Oktober 2013

Here I am. Diatas bus Primajasa menuju Bandara Soekarno-Hatta. Sendirian. Mau ke mana ke bandara? Bali. Tiket CGK-DPS return udah kebeli dari tanggal 31 Agustus lalu. Belinya juga random banget. Kebetulan nge-follow @citilink, dan kebetulan lagi rame promo tiket anywhere seharga Rp 55.000. Pas buka website langsung bisa, biasanya kan suka lagi penuh yang buka website kalo promo, jadinya susah masuk ke website nya, nah ini nggak. Aku ngajak beberapa temen. Pada nggak pasti. Akhirnya nekat beli. Buat sendiri. Sendirian. Random pilih tanggal 4 okt-9 okt. Karena itu masih agustus, dan oktober masih lama. Akhirnya udah aja, lupa. Pas masuk minggu terakhir september baru mikir, ini tiket mau dijadiin pergi atau diangusin aja. Kesini-kesininya, berasa keadaan kondusif banget buat aku untuk pergi. Temen-temen lagi pada malesin, kuliah lagi jenuh banget, hati sedang kacau, and this is the perfect time for me to go. To distance myself from people. And here I am. Akhirnya memutuskan berangkat. Berangkat tanpa rencana, dan tanpa ekspektasi apapun. Benar-benar cuma ingin pergi dari rutinitas dan menghilang dulu. Beruntungnya aku join di couchsurfing.org, ini tuh website yang merupakan wadah para traveler, untuk ketemu orang baru, sharing everything. Aku udah kirim rekues ke beberapa orang untuk tinggal di tempat mereka selama di Bali. Beruntungnya ada 2 orang baik yang bersedia nampung aku. Aku sih beruntung, tapi nggak tau, menurut mereka aku musibah atau cobaan hahaha

Ini kali kedua  aku ke Bali. Dulu waktu ke Bali tahun 2007, dan ini udah 2013, berarti 6 tahun yang lalu. Itupun pergi bareng keluarga. Tempat-tempat ikonik Bali yang must visit udah semua pas tahun itu. Kuta, GWK, Besakih, Tanah Lot, Pura Ulun Danau Bratan, Bedugul, Ubud, taman yang banyak monyet, Padang bay, Nusa Dua, Sanur, makan salak bali, rujak kuah pindang, sate lilit, udah semua sih, walau cuma sekali itu. Nah yang kedua kali ini, aku nggak ada tujuan mau kemana. Dan beruntungnya aku diajak mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Berarti selain yang diatas, kecuali Kuta.

Nyampe bali jam 7 PM WITA, host 1 aku, namanya Indri, asli Bali, bersedia jemput di Bandara. Abis itu Indri ngajak makan nasi pedas khas Bali dan lanjut ikut gathering CS Bali, Friday Rendezvous. Disana aku ketemu Nata dan Oka, How lucky I am can meet them. 

Indri, a cheerful person and talk a lot, so much fun, i stayed in her house for 1 night, and she took me to Kintamani. Her house is so nice and homey, her room's so comfortable. She is a live-GPS alias GPS hidup, soalnya dia tau banyak tempat dan apal banget jalan di Bali sampe jalan tikus. She's also a good driver. She's not only my new friend but also my sister :) 

Nata, I saw his pencil sketches, it's beautiful, he is very talented and i like his drawing, although i don't understand what it is hahaha his daily style is really like a real artist. He told me about many things, include his work before he moved to Bali. He has interesting point of view, i'm grateful for his help and hospitality.

Oka, type of cool people. He's not talking much. But he's kind. He gave me Ubud Writers & Readers Festival T-Shirt. I'm so so so glad. He has phobia to orange (fruit) :D

5 Oktober 2013

Indri ngajak aku ke Kintamani, liat Gunung Batur dan Danau Batur, makan di Resto Apung.



Kintamani, liat gunung dan danau Batur, makan di Resto Apung.


Di jalan pulang dari Kintamani. Liat itu gunung, awan, perfect day!

6 Oktober 2011

Sore kemaren aku pindah ke host 2, mbak Laili. 

Laili, the first time i met her, i've just known that her and i can be a good friend. She's funny and very kind to let me to stayed in her room for 4 nights. I hope i can stayed for more night. She knows a cheap way to eat and to go, and it's so good for a minimum budget traveler like me. And the important things is she's really 'bolang, bocah petualang' :D 

Hari minggu ini mbak Laili ngajak aku jalan bareng Mbak Sita (CS Ambassador Bali!), Mas Aksar, Mas Boby, dan surfernya Mbak Sita, Coline, atau Colline, atau apapun pokoknya bunyinya Kolin, dari ostrali.



Angseri Hotspring



Jatiluwih, Tabanan. Kanan-Kiri : Vina, mas Boby, mas Aksar, mbak Sita, mbak Laili, Kolin yang
  motoin :p



Karsa Kafe, Ubud

Mbak Sita, What an honor i can know her, she is CS Ambassador! If there are many people said that mbak Sita always speak fast, that's true hahaha She's funny and kind, easy going and adventurous person. What a day with you and the others that day. I will never forget and i hope we meet again soon.

Mas Boby, a cool guy with cool tattoo on his left foot. Kinda a serious guy at first, but no, he made bunch of jokes. The funniest thing from him is when he put his feet into the pond, and the fish start to eat his feet thumb and he laugh tickle.

7 Oktober 2013

Hari ini saya dan mbak Laili ke Karang Asem. Kita naik motor kurang lebih 1.5 jam apa 2 jam gitu. Jauh banget. Tapi saya seneng jalan kesana, soalnya jalannya lurus, lewat by pass, dan mulus. Di by pass saya bawa motor ngebut, tapi apa daya motornya mentok di 90km/jam. Jadi sepanjang bypass ity saya ngebut terus di 90km/jam, berapa kilo saya nggak ngerti, pokoknya jauh. Ngebut adalah salah satu hal yang sangat menarik untuk dilakukan di Bali. Dan saya senang sekali bisa ngebut. Haha Soalnya liat aja Bandung, padet gitu, trus kalo mau ngebut, jalannya bolong-bolong. 

Jadi di Karang Asem ini saya pergi ke Puri Taman Ujung dan Pantai Candi Dasa.


 Puri Taman Ujung, Karang Asem


Pantai Candidasa, Karang Asem

Pulang dari Karang Asem, kita mampir di Musemum Renon, Denpasar.


Museum Renon, Denpasar

Sorenya saya main sama mas Aksar, kita sunsetan di seminyak! 


Sunset di Seminyak

Pantai yang bagus, suasana yang tenang, matahari yang mulai hilang, langit yang mulai gelap, sebotol minuman dingin, suasana mahal guys! Pas matahari udah bener-bener ilang, live music main, lagu-lagunya selow, suara bagus, bintang mulai muncul, ah what a moment. Kangen. 

Malamnya, masih bareng mas Aksar. Saya diajak ke farewell-nya temen mas Aksar. Cerita detail pas farewell, biar saya dan orang-orang terlibat aja yang tau.

Mas Aksar, he is 'jail' and 'usil' person! Haha he is the type of person that you can feel like old friend easily. He is a great guy, with very very good link and network. He knows most of important people in Bali. He invited me to his friend's farewell party and almost made me drunk with all that kind of drink. What an experience! I am very happy but not happy about the green shirt :D

Can believe i can drive in Bali, he let me drive his car, he was sleeping and let me to find the way to go home by myself, but i'm not good at memorizing way and road. And i got lost as usual.

His house is the only place in Bali that i can pupup. Soalnya pantat saya agak manja, jadi harus nemu toilet enak dulu baru bisa pup. Bayangin aja udah 3 hari nggak pup. dan selama 6 hari di Bali saya cuma pup sekali. Begaah Tapi kamar mas Aksar dan Toilet-nya masuk kategori nice saya. Akhirnya bisa pupup! Hehe 

8 Oktober 2013

Siangnya saya dan mbak Laili ke Kuta. Berniat mau pasang tato temporare, tapi niat ini saya urungkan, karena saya nggak mau alay. Hahaha padahal apa coba. Terus saya tiba-tiba pusing, mual. Yaiyalah, tadi pagi baru pulang jam 3, tidur jam 5, bangun jam 7. Udah jalan lagi. Tapi ternyata bukan cuma kurang tidur, ups, mungkin saya kebanyakan minum-minuman dingin tadi malam. Dan sisa hari, saya tidur doang. 

Malemnya, mbak Laili kerja, saya kepengen jalan. Berencana ke Kuta, mungkin akan menikmati minuman dingin sendiri di tepi pantai. Pinjem motor, dikasih arahan sama mbak Laili saya mau kemana, berbekal google maps juga, saya pun pede jalan. Apalagi saya udah 2 kali ke daerah Kuta situ diboncengin mbak Laili. Ternyata saya adalah orang yang dijelasin nggak akan ngerti karena jalannya belum keliatan, mana google maps error, minta verifikasi gitu. Nanya-nanya ke orang, ngikutin plang arah, akhirnya nyampe ke daerah Kuta. Orang normal mah 2 kali ke daerah situ pasti apal lah ya. Saya luar biasa bego. Susah banget apal jalan emang. Dan nggak nyampe. Kepala masih pusing, makin pusing, di jalan saya berdoa semoga nggak pingsan nggak kenapa-napa. 

Sekarang masalahnya, udah nggak nyampe tempat yang dituju, ini jalan pulang gimanaaaa? Google maps udah ga bisa dipake. Akhirnya berbekal feeling, intuisi, plang arah, dan nanya-nanya orang tiap berenti di lampu merah, saya sampai dengan selama di kosan mbak Laili. Sempet muntah berapa kali, beneran sakit. Padahal besok mau pulang. Akhirnya tidur dengan perut kosong.

9 Oktober 2013

Ah, masih berasa kurang hari-hari di Balinya. Saya masih betah, tapi harus pulang :(

Mulai packing males-malesan, tas nggak berkurang bebannya soalnya ditambah oleh-oleh buat adek-adek tercinta. Kepala masih pusing. Indri yang baik hati mau nganterin aku ke Bandara, dia juga bilang mau ngajak lewat jalan tol baru. Iya, Bali punya jalan tol baru sekarang. Menghubungkan Nusa Dua. Bagus deh jalan tolnya, di laut gitu. Trus ada jalur motor. Jadi motor juga bisa lewat jalan tol. Sayang belum sempet nyobain pake motor.

And it's time to go home. Saya mendapat teman baru di perjalanan ini, benar-benar teman. Memang benar, dari perjalanan, nggak selalu destinasinya yang menjadi hal utama. Kadang-kadang momen di jalan nya, atau ketemu orang barunya. Dan kali ini, saya ketemu orang-orang baru yang menjelma menjadi teman-teman baru saya. Dan iya, bahagia itu sederhana.



Selasa, 15 Oktober 2013

34 hours

Ini bukan mirip-miripin sama film 127 hours itu ya. Walaupun sama-sama based on true story. Well, can you imagine what can happen in you and yourself in 34 hours? Apa yang bisa terjadi pada dirimu dalam 34 jam? Ini adalah 34 jam yang berkesan dalam hidup saya. Hiperbola sih. Tapi saya belum pernah mengalami hal-hal ini dan seberuntung ini :

  1. Baru pulang dari liburan ke Bali, duit sedang habis, duit jajan nggak ditambah, 4 hari kemudian pergi lagi.
  2. Pergi cuma berdua, rencana dadakan, sama temen, yang bisa dibilang belum pernah ngobrol banyak dan nggak terlalu deket sebelumnya.
  3. Saling curhat dari hati ke hati hahaha
  4. Berencana akan tidur di sleeping bag, bawa-bawa sleeping bag berat, tapi akhirnya ga jadi, jadinya tidur di kamar murah.
  5. Berencana liat sunrise, tapi apa daya, kita baru nyampe jam 3, baru bisa tidur jam 5.
  6. Lupa bawa celana renang, baru inget pas udah nyampe.
  7. Main ombak
  8. Berhasil sewa motor 75.000
  9. Makan seafood segar sekilo dalam sekali hap dengan affordable price
  10. Naik motor sejam di kondisi jalan yang jelek banget, berdebu, banyak truk. Pantat pegel, punggung pegel, muka kucel dan berpolusi.
  11. Pas nyampe tempat, kita berhasil masuk kloter terakhir, last minute banget.
  12. Menyadari duit yang ada kurang buat bayar.
  13. Beruntung karena tempat yang dituju sudah lama nggak hujan, artinya airnya sedang dalam kondisi bagus-bagusnya.
  14. Body rafting 3 jam di sungai berair ijo jernih yang indah, dengan dinding tebing dan pohon-pohon yang bagus banget!
  15. Lompat dan nyebur dari tebing setinggi 9 meter ke air!
  16. Kepeleset pas manjat tebing, baret di perut. Tapi untungnya aku kuat dan tidak suka nangis!
  17. Ngebut lewat jalan pulang yang sama dengan jalan pas pergi demi mengejar bis terakhir.
  18. Ketinggalan bis terakhir menuju bandung. Ketinggalan bis terakhir menuju bekasi.
  19. Akhirnya bisa naik bis kelas bisnis tujuan bekasi dengan AC super dingin.
  20. Udah deket tempat turun malah ketiduran, akhirnya diturunin di tol.
  21. Pake senter di tol. Dan berusaha turun dari tol. Survival abis!
  22. Jalan dari turun tol dan nyari taksi jam 3 pagi.
  23. Nemu taksi, pulang dengan selamat.
  24. Nyampe rumah disuruh makan, lontong dan opor ayam. Nyam! :')

Mission accomplished! Challenge accomplished in 34 hours! What a day. Dan saya sangat kenyang, kenyang akan kesenangan! :D



Senin, 30 September 2013

Normal

Patah hati? Sedih? Ditinggalin? Pasti pernah. Nggak melulu pacar atau orang yang spesial ya, temen, sahabat, apapun lah. Sakit? Iya. Mau back to normal? Nah itu pilihannya. Cara paling ampuh adalah berhenti masih nyari tau tentang dia. Pilihan kan. Terserah kita deh. Mau tetep tau tentang dia, atau mencoba nggak peduli, berhenti liat wall facebooknya, stalking twitternya, dan baca di blognya. Hide dia dari timeline. Unfollow mungkin, atau di mute. Bukan. Bukannya nggak dewasa, apa itu dewasa? aku nggak kenal dewasa. Aku dan kamu cuma perlu waktu untuk menetralkan perasaan. Aku rasa nggak ada orang yang abis ditinggalin langsung biasa lagi, tetep ngobrol, dan bersikap seolah nothing happen. Perlu waktu. Tapi ya itu tadi, pilihan sih. Mau gimana. Dari kitanya sendiri. Mau terus-terusan meratapi nasib, terus-terusan menyesal kenapa dulu nggak gini, kenapa gitu, mau terus-terusan dengerin playlist kenangan bareng dia dulu, nonton film yang dulu pernah ditonton, ketempat bareng dulu, atau mau berubah dan mencoba live our life. Nggak perlu buang foto atau barang dari dia sih, nggak perlu, cuma harus berhenti ngikutin update nya dia tiap hari tiap saat di medsos. Aku nggak pengen tau lagi dia lagi apa sekarang, dia lagi sama siapa. Aku nggak pengen tau lagi. Udah cukup. Dia nggak mungkin balik lagi. Jadi ngapain terus-terusan sok patah hati. Lihat orang disekeliling kita. Coba lihat. Jangan terus-terusan ketutup sama  dia yang udah pergi. Dia nggak ada buat aku sekarang. Lihat siapa yang di depan kita sekarang. Temen-temen yang pada baik, mereka nggak invisible. Mungkin aku dan kamu perlu waktu untuk bisa ngomong balik kayak dulu lagi. Mungkin bukan kita, tapi aku. Plis anyone, kalo mau pergi bilang-bilang. Jangan pergi gitu aja. Ditinggal itu nggak enak. Pilihan sih, mau apa nggak. Berani take position.

New Playlist = (hope) New Mood

Sering banget galau nggak beralasan akhir-akhir ini. Mungkin karena nggak punya temen ngobrol, terus nggak kemana-mana. Aku yang bosenan ini pasti jadi pusing kalo udah dirumah terus nggak ada temen ngobrol dan nggak ngapa-ngapain. Dengerin musik di playlist handphone, eh malah lagu galau semua. Bener sih kalo lagi galau, dengerinnya lirik, jadi lirik-lirik patah hati harus dihindari, walaupun aku sendiri nggak lagi patah hati. Playlist di HP banyak musik keras, tapi tetep bisa bikin misuh-misuh kalo dengerinnya pas galau karena liriknya yang pada patah hati. Akhirnya saya pun mengganti lagu-lagu saya dengan lagu yang lebih bener. Ini beberapa lagu baru nya : 

1. How to Be A Heartbreaker - Marina & The Diamonds
2. What You to Know - Two Door Cinema Club
3. Young Folks - Peter, Bjorn, and John
4. Burn - Ellie Goulding
5. Slow Down - Selena Gomez
6. That's My Kinda Night - Luke Bryan
7. Don't Wake Me Up - The Hush Sound
8. Boats and Birds - Gregory & The Hawk
9. Island in The Sun - Weezer
10. Peace Sign - Lights

Urutan nggak mempengaruhi preferensi. Jadi yang ada di no. 1 bukan yang paling aku suka. Kebetulan banyak lagu-lagu random yang aku denger dari 8tracks. Jadi banyak tau lagu-lagu baru yang aku nggak tau. Tau site ini dari temen, karena dia sering muter dari sini. Bisa milih lagu sesuai mood. Jadi kalo nggak mau tambah galau, pilih kategori yang nggak galau. Jadi ya mudah-mudahan nggak akan ada lagu galau yang terselip dan bikin kita jadi galau lagi.

Kalo lagi bosen, suka dengerin lagu-lagu diatas, nyari lirik, dan nyanyi-nyanyi sendiri. Atau kalo bosen nyanyi, beneran aku bisa joget-joget dikamar sampe keringetan. Iya, nyadar sih, emang rada abnormal. Tapi gimana ya, aku emang nggak suka sendirian. Dan kalo emang terpaksa di rumah aja dan nggak bisa kemana-mana, kalo nggak nonton koleksi film yang didapat secara cuma-cuma dari temen-temen yang baik, ya nyanyi-nyanyi dan joget-joget sampe keringetan. Nyadar sih, harusnya bisa lebih produktif, olahraga mungkin renang, lari. Ngerjain tugas kalo ada. Belajar mungkin. Ya kali belajar. 

Telat.

Sebenarnya saya bukan orang yang suka terlambat, atau sering dateng telat. Cuma terkadang saya males datang tepat waktu kalo acara rame-rame, misal ketemuan temen lama, acara gath, janjian bareng rame-rame. Tapi kalo janjian personal, antara saya dan seseorang lain, yang peserta janjian Cuma saya dan orang tersebut, saya biasanya nggak suka telat, malah suka dateng lebih awal ke tempat janjiannya, cuma memunculkan diri belakangan, jaga-jaga kalo dia telat, dia nggak perlu tau kalo saya nunggu dari tadi.

Bdw, saya itu orangnya perasa, pemerhati. Kadang-kadang males juga sih, jadinya terlalu peka, dan gampang nggak enakan ke orang lain. Dan suka sedih kalo orang lain yang nggak peka. Saya nggak terlalu suka nunggu, nggak terlalu, berarti ya kadang-kadang suka, kadang-kadang nggak masalah, kadang-kadang it’s okay. Nah karena saya kurang terlalu suka nunggu, makanya saya berusaha menempatkan orang lain diposisi saya, saya selalu berpikir, “Mungkin orang lain juga nggak suka nunggu.”. Dan alasan saya males dateng tepat waktu kalo janjian rame-rame juga itu, saya kurang terlalu suka nunggu.

Entah kenapa, hal tersebut nggak berlaku pas kuliah. Dulu awal kuliah, saya sempet dateng sebelum jam kuliah, bisa setengah jam bahkan sejam sebelumnya, cuma untuk nunggu kelas. Dan entah kenapa, hasil dari menunggu, saya jadi produktif. Produktifnya adalah ngerapiin catetan yang kemaren atau minggu lalu, baca-baca materi buat kuliah yang sedang ditunggu. Mungkin juga alasan saya dateng lebih awal karena dulu pake angkot. Yang suka unpredictable. Kadang cepet banget, kadang ngetem dan jadinya lama banget. Walaupun jarak rumah ke kampus Cuma 6 km. Mulai semester 2, mulai pake motor, makin jarang berangkat lebih awal. Kuliah jam 7, berangkat jam 7 kurang 5. Kuliah jam 12.30, baru mandi jam 12.15.

Selama kuliah ini, dikelas saya sering banget meratiin temen-temen yang telat dan reaksi dosen-dosen ke mahasiswa yang telat. Ada dosen yang nggak terlalu tepat waktu, sering terlambat juga, tapi begitu dia udah masuk kelas, nggak boleh ada mahasiswa yang masuk kelas. Ada dosen yang 15 menit sebelum kelas dimulai dia udah dateng, padahal kelas pagi jam 7, tapi begitu ada mahasiswa yang 7.30 baru dateng dia santai aja. Mahasiswa yang telat macem-macem. Ada yang ngetok-ngetok doang, nunggu dibukain. Ada yang ngetok, terus ngintip, sambil cengar-cengir izin masuk ke dosen. Ada mahasiswa yang pake sendal, pake kaos, nyelonong masuk aja telat 40 menit. Ada yang buka pintu dikit, trus ngintip dan nanya ke temennya masih boleh masuk atau nggak. Macem-macem.

Makin ke semester atas, saya yang pemerhati ini makin ngerti tipe-tipe dosen yang ngizinin masuk sama yang nggak, dan makin apal sama temen-temen yang suka telat dengan gayanya masing-masing. Dan makin kesini, kayak yang udah saya ceritain semenjak naik motor itu, saya juga suka telat. Saya mulai males dateng cepet. Saya males nunggu dosen kalo mereka telat. Saya males mandi cepet-cepet. Saya males bangun cepet. Saya males ngeprint malem. Saya males bikin tugas malem-malem. Iya kemunduran emang. Sedang dalam kondisi fatigue akut. Lack of passion. Diminishing of motivation. Hahaha

Karena telat, saya pernah beberapa kali nggak dibolehin masuk sama dosen. Kesel bukan main sih sebenernya. Bukan karena jadi nggak bisa ngikutin pelajarannya, tapi karena absen saya jadi terbuang percuma. Hiks. Padahal saya udah ngerencanain bolos buat jalan-jalan atau buat apaaa gitu T.T #dasarmahasiswa

Tapi makin kesini saya makin pengalaman. Bukannya berubah dan dateng lebih awal, saya jadi lebih lihai untuk bisa masuk kelas walau telat.

Pas telatnya cuma sampai batas 15 menit, saya biasanya masuk aja. Ngetok pintu, buka, masuk, tutup, langsung duduk, tanpa menatap dosen, dan nggak grasa grusu. Dan semua itu dilakukan dengan durasi yang singkat, cepat, langkah pasti. Setelah duduk biasanya Cuma ditanya sama si dosen, kenapa terlambat. Saya biasanya juga jawab dengan cengiran manis, akting pasang muka yang merasa bersalah karena sudah telat, dan bilang, “Iya pak....”. Biasanya sang dosen nggak akan melanjutkan pertanyaan. Setelah dosen kembali fokus ke kelas, barulah kamu boleh ngobrak-ngabrik tas nyari-nyari kertas dan pulpen. Kalo kamu yang suka telat, tapi caranya : ngetok pintu, buka, masuk setengah, liat muka dosen, dan nanya, “Masih boleh masuk, pak?”, biasanya dia akan bilang “Udah telat 15 menit” sambil geleng-geleng nggak atau tangan yang melambai-lambai nggak. Ya iya, orang ditanya. Dia jadi tergoda untuk bilang nggak. Saya pernah bisa masuk kelas, padahal sebelumnya udah ada yang nggak dibolehin masuk. Abisnya dia minta izin sihh...

Pas telatnya sampe sejam, saya biasanya nitip tas ke temen, atau nitip ke perpus, dan masuk melenggang ke kelas seolah kita baru dari kamar mandi. Pernah dicurigai dosen, ditanya, “Kamu terlambat? *liat saya yang nggak pake tas* Eh, tadi udah masuk?” “Dari toilet, bu.” Dan berhasil! Absen selamat!

Pas lagi bosen abis di kelas, saya pernah pulang dulu kerumah, trus balik lagi. Seringnya sih saya izin ke toilet, padahal nongkrong dulu di kantin. Trus beli cemilan buat sambil makan diem-diem dikelas biar nggak bosen.

Inti dari tulisan ini random thought sih, tapi entah kenapa kebanyakan kita mengalami kemunduran makin kesini kuliah. Padahal makin berat. *sigh*